Konflik Mesir Memanas, Gerakan Protes atas Kehancuran Ekonomi Bermunculan

Konflik Mesir Memanas, Gerakan Protes atas Kehancuran Ekonomi Bermunculan

Ilustrasi Demo di Mesir


Demuslim.com , Mesir - Gelombang Protes terjadi di mesir setelah mencuatnya  isu hancurnya  ekonomi dan korupsi merajalela di bawah kepemimpin Sisi. 

Ahmad ( Nama Samaran) Seorang guru yang tinggal di Kairo,  mengatakan bahwa saat ini di Mesir telah terjadi kehancuran ekonomi. Kesenjangan mulai tampak antar kaum elit dan rakyat jelata.

Dengan harga gas yang melonjak dan kebutuhan sehari-hari yang semakin mahal, Ahmad merasa bahwa kelas pekerja di negara itu hampir hancur, sementara kesenjangan pendapatan antara si kaya dan kelas menengah terus melebar.

Sebelum tahun 2011 saat  perebutan kekuasaan oleh jenderal militer Mesir Abdel Fattah el Sisi, dulu kata Ahmad, dirinya masih sering pergi ke luar negeri untuk liburan.  Sekarang wisata di pantai lepas saja sudah menjadi barang mahal. Hal ini menunjukan bahwa di Mesir benar telah terjadi ketimpangan ekonomi, terlebih pasca jatuhnya kekuasaan ke tangan pemerintaan Sisi.

Menurut Ahmad, lelaki yang berusia 27 tahun itu,  pemerintah sekarang benar-benar telah meleset jauh dalam perencanaan ekonomi, sehingga mengalami permasalahan perkonomian yang kian memburuk.

Kini, dalam beberapa minggu terakhir, protes anti-Sisi  telah meletus di beberapa pusat kota. Kejadian ini adalah yang pertama kalinya dalam kurun waktu enam tahun.

 Sementara itu, Kairo masih bersikap santai. Padahal  polisi anti huru hara yang berpatroli di beberapa lwilayah, telah menghalangi jalan utama dan menangkapi orang di sana-sini.

Komentar atas kehancuran ekonomi Mesir juga datang dari kalangan mahasiswa, salah satunya Mohamed, 23 tahun, mahasiswa Alexandria.

“Harga semuanya telah dinaikkan.  Bahan bakar, makanan, biaya kuliah, ” kata Mohamed, sebagaimana dikutip TRT World.

Gerakan protes semakin bermunculan, meskipun ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan kejadian di tahun 2011 sebelumnya. Memang sebagian besar telah diredam.


Kini, gerakan protes muncul  dipicu oleh  serangkaian video yang diunggah oleh kontraktor Mesir bernama Mohamed Ali pada awal September lalu. Dalam salah satu video yang dirilis itu, Ali menuduh Sisi telah melakukan korupsi besar-besaran. Hal ini membuat rakyat turun ke jalan sebagai bentuk protes.

Ali juga mengatakan, “Sambil mengendalikan sumber daya negara dan terobsesi dengan investasi asing di Mesir, kepemimpinan militer saat ini telah melewatkan peluang kompetisi untuk pembangunan.

Tingkat korupsi yang merajalela inilah yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan kenaikan harga, ”

Tergerak oleh panggilan nurani, Ali Mohamed bertekad ikut berpartisipasi dalam gelombang protes itu. Akan tetapi pihak keluarganya tidak mengijinkan. Hal ini dikarenakan keluarganya adalah   generasi yang menyaksikan sendiri pembantaian Rabaa, dan memahami kebrutalan rezim Sisi yang terlibat dalam mengekang perbedaan pendapat. Trauma itulah yang mengalangi Ali untuk berpartisipasi.

Hingga saat ini, Kairo masih dikunci, dengan sudah lebih dari 2.000 orang telah ditahan dalam kurun waktu beberapa minggu terakhir.  Protes pun hingga kini belum sepenuhnya teratasi.  Laporan-laporan orang-orang yang berkumpul dan slogan melawan rezim Sisi masih terus mengalir keluar semakin meluas.

Dalam upaya untuk mengatasi rasa frustrasi yang tumbuh di antara orang-orang Mesir, pemerintah mengklaim bahwa tingkat inflasi masih baik dan ekonomi masih berjalan baik pula.

Akan tetapi karena tingkat kemiskinan telah mencapai titik tertinggi sepanjang masa, rakyat Mesir malah mempertanyakan klaim pemerintah itu, sebab mereka tidak melihat standar kehidupan mereka semakin membaik.

Pada tahun 2016, tiga tahun setelah pemerintahan Sisi menggulingkan Presiden Mohamed Morsi yang terpilih secara demokratis di negara itu, Sisi kemudian menyegel perjanjian pinjaman $ 12 miliar dengan Dana Moneter Internasional (IMF).

Langkah-langkah penghematan yang dilakukan malah membawa ketidaknyamanan bagi 100 juta rakyat Mesir di tahun-tahun berikutnya.

"Manfaat yang diperoleh setelah langkah-langkah penghematan hanya menguntungkan satu persen kelompok elit - baik orang kaya atau orang-orang yang terhubung dengan militer dan lembaga-lembaga yang terhubung dengan mereka (pemerintah Sisi)," kata Mohamed Kamal Okda, seorang ekonom dan Direktur Mesir  Crisis Center di sebagaimana dikutip TRT World.

“Upah minimum pada tahun 2014 adalah 1.200 pound Mesir [per bulan].  Kelihatannya bagus - upah minimum telah meningkat dari 1.200 pound menjadi 2.000 pound.  Tapi itu tidak mencerminkan kenyataan, karena faktor-faktor inflasi dan keseluruhan nilai pound secara signifikan lebih lemah daripada lima tahun yang lalu, “katanya.

Selama tiga tahun terakhir dari program IMF, presiden Mesir dipuji karena memulihkan pertumbuhan ekonomi, karena dianggap melaju ke 5,6 persen pada Juni, tertinggi dalam 10 tahun terakhir.

Tetapi kenyataanya, kemiskinan meningkat secara dramatis menjadi 32,5 persen dari 27,8 persen pada 2015. Menurut badan statistik resmi bahwa Bank Dunia menempatkan bahwa jumlah penduduk yang miskin hampir mencapai 60 persen.

Sedangkan Inflasi mencapai sekitar 21 persen pada tahun fiskal 2019, menyebabkan turunnya daya beli masyarakat Mesir, karena biaya hidup meningkat.

Meskipun menghadapi rasa frustrasi yang semakin besar, orang Mesir sebagian besar masih ragu-ragu untuk berbicara menentang pemerintah.

 Dengan larangan protes yang berlaku sejak 2011, Sisi mengharapkan kesabaran dan pengekangan dari orang-orang Mesir.

Mohammed Ali, kontraktor pelapor yang memposting video yang menuduh korupsi di pemerintahan, telah mengklaim bahwa anggaran tpemerintah tidak digunakan untuk kemakmuran ekonomi tetapi untuk kenyamanan pribadi elit pemerintah Sisi.

Ali mengatakan, alih-alih membangun infrastruktur publik, nyatanya miliaran dolar dipakai untuk membangun istana dan modal administratif baru.

Hamed mengatakan, bagaimana dikutip TRT World bahwa yang paling membuat marah orang Mesir adalah tidak hanya "langkah-langkah penghematan, tetapi juga Sisi membangun istana untuk dirinya dan keluarganya, menghabiskan miliaran pound Mesir".

“Satu-satunya pendapatan pemerintah yang meningkatkan adalah pajak - uang yang berasal dari kanal Suez tidak membaik dan uang yang berasal dari pariwisata tidak mengalami peningkatan.

Sedangkan uang yang berasal dari produksi tidak membaik.  Bahkan setelah dievaluasi dari nilai dolar pada tahun 2016, angka ekspor tidak meningkat. ”

Hamed mengatakan bahwa orang-orang dari seluruh partai dan garis ideologis mengatakan bahwa kekacauan tidak dapat dibiarkan begitu saja.
LihatTutupKomentar