Menanti Kesinambungan Penguasa, Alam, dan Sejarah Bagi Tanah Delta Sidoarjo

Menanti Kesinambungan Penguasa, Alam, dan Sejarah Bagi Tanah Delta Sidoarjo


Penulis: Kyota Hamzah

Kesuburan adalah berkah tersendiri bagi masyarakat dan penguasa. Saat tanah subur, kebutuhan pangan dan industri akan terpenuhi, perekonomian terangkat baik bagi masyarakat setempat maupun masyarakat di sekitar tanah yang subur. Salah satu contohnya adalah Sidoarjo. Sidoarjo merupakan kawasan subur yang berasal dari lintasan aliran sungai dan endapan lumpur.

Sejak masa kerajaan Kahuripan hingga Jenggala, kawasan ini (Sidoarjo) menjadi tempat bercocok tanam yang pas. Daerah yang diapit oleh dua sungai besar, sungai Kalimas dan sungai Porong. Pada masa kerajaan Majapahit, tempat ini jadi kawasan lumbung padi dan hasil kebun bila dilihat dari bukti sejarah berupa peninggalan Candi Pari dan Candi Sumur peninggalan Raja Hayam Wuruk.
Serta cerita rakyat mengenai Jaka Pandelegan dan Dewi Lara Walang Angin yang membuat Raja Brawijaya kagum karena keduanya selalu menghasilkan panen raya saat daerah lainnya mengalami paceklik. Bila mencermati cerita tersebut, maka bisa diambil kesimpulan jika Sidoarjo jadi kawasan penting dalam hal pertanian.

Lalu, di masa kolonial Belanda, Sidoarjo juga punya peran penting dalam perjalanan bangsa. Kawasan delta yang landai serta banyaknya air tanah mendukung program tanam paksa cetuskan gubernur jenderal Belanda, Johannes Van De Bosch untuk menanam komoditas ekspor. Salah satu primadonanya adalah tebu yang kini jadi lambang kabupaten Sidoarjo.

Dari ketiga masa tersebut, ada hal unik mengenai pengelolaan dan sikap mereka dalam menjaga alam dan peninggalannya. Pada masa kerajaan, keberadaan sungai dianggap penting demi menjaga hasil panen yang baik dan menjaga air tetap bersih, baik untuk irigasi maupun konsumsi pribadi. Selain itu peninggalan dari pemimpin terdahulu juga dirawat dengan baik agar tetap bermanfaat bagi masyarakat atau menghormati alam.

Di masa kolonial, industri gula memunculkan pabrik-pabrik di setiap kecamatan. Tenaga penanaman tebu membuat pemilik mencari buruh tani untuk menggarap tanah perkebunan. Secara tidak langsung sarana dan prasarana harus disiapkan oleh mereka demi berjalannya roda perekonomian. Transportasi, pemukiman, dan pasar jadi bukti Sidoarjo harus berbenah agar pemilik perusahaan bisa mengirim hasil bumi ke luar negeri.

Penguasa Lupa Sejarah?
Sidoarjo punya potensi besar yang jarang dimiliki daerah lain. Potensi sejarah lintas zaman membentuk budaya Sidoarjo jadi unik. Memang keberadaan delta membuat lahan pertanian subur, namun tidak dapat dielakkan bila suburnya sebuah wilayah akan menarik pendatang dari luar Sidoarjo bekerja dan menetap di sini. Masyarakat Sidoarjo termasuk majemuk, ada yang berasal dari orang Jawa Mataraman, Jawa Arekan, Madura, Tionghoa, dan Arab. Dari zaman kerajaan Majapahit hingga kolonial Belanda.

Namun sayang, potensi besar tersebut harus terkubur dalam karena ulah  pemimpinnya yang lupa dengan sejarahnya. Para pemegang kekuasaan lupa bila tanam yang subur dijadikan lahan pabrik. Tidak masalah sebenarnya jika mereka membangun lahan pabrik, namun jangan dibangun di tanah tepi sungai. Sidoarjo yang seharusnya kota Delta malah kehilangan lahan pertanian. Perumahan dan pabrik memakan persawahan dan membongkar situs bersejarah yang ada.

Banyak bagunan tua seperti pemukiman dan pabrik gula hancur maupun terbengkalai, yang paling mengenaskan pabrik gula pertama, Pabrik gula Balongbendo, kini jadi tempat sampah dan tersisa cerobong asapnya saja. Bangunan lawas yang masih nampak nilai historisnya seperti di jalan Mojopahit, Jetis, Kauman, dan kawasan lainnya rusak dimakan zaman. Padahal bangunan tersebut bisa menjadi objek wisata edukatif maupun pengenalan sejarah seperti di Singapura, atau yang paling dekat saja seperti di Surabaya. Kawasan historial disulap jadi tempat wisata yang selain menjadi cara melindungi sejarah juga memiliki manfaat ekonomis bagi pemerintah maupun masyarakat setempat. Namun mau bagaimana, di sini masih jauh memikirkan hal seperti itu.

Di satu sisi perubahan membawa dampak yang cukup signifikan, bisa baik atau buruk. Sialnya kami kebagian yang buruk, para pemangku kepentingan seakan acuh terhadap alam dan peninggalan sejarah yang ada. Kejayaan kerajaan Kahuripan dan Jenggala seakan jadi omong kosong semata bagi mereka. Selama ada uang haram masuk ke kantong, selama itu pula harapan terkubur oleh keangkuhan mereka.

Pemimpin adalah khalifah di muka bumi, Khalifah di sini adalah maksudnya penjaga serta pengelola bagi bumi. Sebagai penjaga, seharusnya wajib menjaga apa yang dilindungi. Sebagai pengelola, wajib baginya mengatur jalannya kegiatan yang ada di muka bumi supaya tidak kacau. Konsep ini yang semakin lama ditinggal oleh kita, terutama para pemimpin kita.

Alam yang seharusnya titipan menjadi harta yang dikejar sampai mati. Alam yang seharusnya dijaga ekosistem dan makhluk yang ada dikeruk dan dibabat sampai rusak. Rusaknya alam sejatinya merusak dirinya sendiri. Banjir, tanah longsor, puting beliung, hingga kebakaran hutan sudah cukup menjadi bukti bila alam rusak kehidupan manusia juga terancam.

Begitu pun dengan sejarah, ketika seseorang lupa akar sejarahnya akan menjadi bencana moral yang lebih berbahaya. Mereka bisa merusak alam, makhluk hidup dan manusia itu sendiri. Dahulu kepik dan kunang-kunang jadi kawan bermain kita kala senja tiba. Kini semua hilang tergantikan asap dan debu pembangunan yang entah kemana tujuannya.

Di Sidoarjo, kondisi sungai sudah sangat memprihatikan. Sungai yang dahulu dibuat nyadran dan sedekah laut tercemar oleh limbah pabrik dan sampah dari masyarakat itu sendiri. Sampah yang menutup laju air mengakibatkan banjir seperti yang ada di sungai Kali Butung, pepohonan di sekitar sungai Pucang banyak yang ditebang tanpa ada kepastian kapan digantikan dengan pohon yang baru.
Saat ini para elit politik memproklamirkan diri sebagai pemimpin yang baik. Seribu baliho terpampang di sepanjang jalan. Namun sayang apa yang dijanjikan tak sesuai dengan realita. Banner masih dipaku di pohon, janji perubahan hanya pemanis kata dalam baliho. Entah ada greget untuk menjaga alam dan sejarah ditengah tantangan industri yang semakin ketat.

Siapa pun pemimpinnya, selama bisa melayani masyarakat, alam, dan sejarah akan nampak perubahan. Masyarakat tidak bisa hidup tanpa alam dan masyarakat tidak bisa belajar bila tidak tahu sejarahnya. Ketika semua bersinergi, saat itu pula perubahan baik akan berjalan dengan seharusnya.

Tentang penulis

Kyota Hamzah, seorang manusia biasa yang berasal dari Sidoarjo. Tertarik memulai menulis sejak 2011 hingga sekarang, dari tulisan berbentuk puisi, cerpen, dan esai. Tertarik dengan sejarah terutama sejarah kolonial Hindia Belanda dan aktif dalam acara literasi maupun seni. Dalam keseharian, Kyota Hamzah seorang penjual jamu dan suka mengoleksi barang antik seperti uang lama, buku, maupun dokumen lama. Sedikit nyeleneh dan suka mencoba hal baru. Sampai saat ini masih terus belajar mengenai sejarah dari pecinta sejarah dan mendalami kisah yang terkandung dalam koleksi barang antik. Berharap bisa memiliki sanggar sejarah untuk belajar sejarah dan agar tidak lupa asal diri.


LihatTutupKomentar