Insan-Insan Mulia Ini Wafat Di Bulan Ramadan #Bagian1: Khadijah binti Khuwailid

Insan-Insan Mulia Ini Wafat Di Bulan Ramadan #Bagian1: Khadijah binti Khuwailid


Beberapa hari yang lalu, kita mendengar berita wafatnya salah seorang pendakwah sekaligus politisi terkemuka, yakni Ustadz Mutamimmul 'Ula. Politisi yang dikenal teguh pada prinsip dan antisuap ini wafat pada 7 Mei 2020 kemarin, pukul 07.56, atau bertepatan dengan 14 Ramadhan 1441H. Beliau meninggalkan seorang istri dan 10 putra, yang semuanya adalah penghafal Al-Quran.

Memang, tidak ada dalil shahih baik dalam Al-Quran maupun Al-Hadist tentang keutamaan wafat di bulan Ramadhan atau waktu-waktu khusus lainnya. Dilansir dari binothaimeen.net, menurut Syekh Ibnu 'Ustaimin, pahala seseorang tergantung pada amalannya, bukan pada kapan seseorang meninggal.

Akan tetapi, sebagaimana dilansir dari konsultasisyariah.com (15/5/2019), Ramadan adalah bulan mulia. Bulan penuh ibadah dan keutamaan dalam beramal. Rasulullah bersabda, "Siapa bersedekah dengan penuh keikhlasan, dan ia mengakhiri hidupnya dengan ibadah itu, maka ia masuk surga." (HR. Ahmad).

Dengan demikian, ada korelasi antara kematian yang baik (husnul khatimah) pada bulan Ramadhan, bagi orang-orang yang rajin beribadah.

Jika kita melihat sejarah, ternyata banyak sekali insan-insan mulia wafat di bulan Ramadhan. Dalam kesempatan ini, saya akan mencoba menuliskan beberapa sosok insan tersebut. Sosok pertama adalah seorang wanita yang paling saya kagumi dan sangat ingin bertemu dengannya kelak, di surga (amiin ya rabbal 'alamiin).

Ibunda Khadijah binti Khuwailid!

Tokoh ini adalah sosok yang sangat mulia. Beliau memiliki nama lengkap: Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai, sering juga disebut sebagai Khadijah Al-Kubra.

Rasulullah bersabda tentang keutamaan wanita yang dinikahi beliau tersebut, "Wanita penghuni surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim istri Firaun" (HR. Ahmad, Thabrani, Hakim).

Kecintaan Rasulullah kepada istri pertamanya ini sangat mendalam. Sangat bisa dipahami, sebab, Bunda Khadijahlah yang banyak memberikan penguatan, pendampingan, dan bahkan hartanya yang berlimpah untuk dakwah Rasulullah di awal-awal masa kenabian.

Ummul mukminin Sayyidah Khadijah Kubro wafat pada bulan Ramadhan, yaitu 10 Ramadhan (ada juga yang mengatakan tanggal 11 Ramadan, misal dalam kitab Al-Busyro Fi Manaqib Sayyidati Khadijah Al Kubro). Namun, sejarawan bersepakat bahwa beliau wafat pada tahun ke-10 kenabian, yakni  3 tahun sebelum Rasulullah dan Kaum Muslimin hijrah ke Madinah.

Dalam kalender Masehi, 22 November 619 M. Ketika tanggal ini saya masukkan ke aplikasi pengubah tanggal masehi ke hijriah, ternyata merujuk pada 7 Rabbi'ul Tsani -3 H. Bisa dipahami, karena sudah berlangsung lebih dari 1400 tahun, sangat mungkin sedikit bergeser.

Boikot Suku Quraisy

Sayyidah Khadijah wafat ketika ummat Islam dalam kesulitan. Tindakan represif Suku Quraisy terhadap Rasulullah dan Kabilah Bani Hasyim sedang kuat-kuatnya. Terjadi pemboikotan ekonomi yang sangat dahsyat. Warga Mekah dilarang melakukan perdagangan dan urusan ekonomi dengan keluarga Rasulullah SAW.

Para pembesar suku Quraisy berkumpul dan membuat kesepakatan untuk melakukan pemutusan hubungan total dengan Bani Hasyim serta Bani Abdul Muththalib. Mereka menggantungkan pengumuman yang isinya semacam ini:

  1. Barang siapa yang setuju dengan agama Muhammad, berbelas kasihan kepada salah seorang pengikutnya yang masuk Islam, atau memberi tempat singgah pada salah seorang dari mereka, maka ia dianggap sebagai kelompoknya dan diputuskan hubungan dengannya.
  2. Tidak boleh menikah dengannya atau menikahkan dari mereka.
  3. Tidak boleh berjual beli dengan mereka. (sumber: dakwatuna, 06/01/09).

Dengan demikian, Rasulullah SAW dan keluarganya, diisolir di Syi'b Bani Hasyim. Peristiwa itu berlangsung sekitar 3 tahun. Kota Mekah terdiri dari bukit-bukit dan lembah, merupakan gurun pasir yang gersang dan kurang bersahabat. Cuaca juga sangat panas. Bayangkan jika pada masa-masa itu, Rasulullah tercinta dan keluarganya dikurung dalam sebuah lembah yang gersang, dan tak ada penduduk Mekah yang boleh berhubungan untuk urusan apapun dengan mereka!

Saat itu, putri-putri Nabi masih kecil-kecil. Fatimah masih Balita, beliau lahir sekitar tahun 5 kenabian. Ummu Kultsum dan Ruqayyah pun masih kecil.

Saat ini, kita sedang menjalani pembatasan sosial akibat pandemi corona. Terasa begitu mencekam, sulit dan berat. Padahal, baru juga berlangsung selama 3 bulan, dan akses kita tidak sepenuhnya diputus sebagaimana apa yang terjadi pada keluarga Rasulullah SAW.

Boikot itu sungguh sangat kejam. Selama tiga tahun, rumah tangga Rasulullah hampir-hampir tak pernah ada asap menyala, karena tak ada makanan yang dimasak. Mereka mengalami kelaparan yang luar biasa. Dalam kondisi semacam itu, Sayyidah Khadijah yang usianya sudah sepuh (sekitar 65 tahun), mulai jatuh sakit. Kondisinya memburuk.

Sungguh mengharukan kisah tersebut. Saat sebelum kenabian, Khadijah adalah seorang wanita yang kaya-raya, berasal dari kasta elit di Mekah, memiliki kejayaan dalam ekonomi maupun sosial. Beliau sungguh cantik dan terpandang. Semua orang di Mekah hormat kepada beliau.

Namun, harta beliau habis untuk biaya dakwah, sehingga akhirnya jatuh miskin. Saat akhir hayat, baju yang dikenakan Sayyidah Khadijah adalah kain-kain dengan tambalan, sebuah riwayat menyebutkan, 83 tambalan. Bahkan, saat beliau wafat, Rasulullah menggunakan sorbannya sebagai kain kafan. Akan tetapi, itu adalah sorban mulia, yang dipakai Rasulullah saat menerima wahyu-wahyu dari Allah SWT.

Dilansir dari Shirah Nabawiyah tulisan Syekh Shafiyurrahman al Mubarakfury, setelah boikot berjalan 2 tahun (ada yang menyebut 3 tahun), masyarakat Mekah mulai terpecah. Ada kubu yang berusaha menghentikan boikot, seperti Hisyam bin Amr, yang diam-diam sering mengirimkan makanan kepada Bani Hasyim di waktu malam. Hisyam didukung oleh Muth'im bin Ady, Abul Bakhtari bin Hisyam, Zuhair bin Abi Umayyah dan Zam'ah ibnu Aswad. Kelima orang tersebut memprakarsai pembatalan boikot terhadap Bani Hasyim.

Akan tetapi, ada satu mukzizat yang semakin menguatkan masyarakat Quraisy untuk mengakhiri boikot, yakni Allah SWT mengirimkan rayap untuk memakan habis papan piagam berisi pengumuman boikot yang tergantung di Ka'bah. Dengan demikian, secara resmi, boikot pun berakhir.

Akan tetapi, kondisi tak juga membaik. Kekejaman kaum Quraisy terhadap Rasulullah dan keluarganya semakin menjad-jadi. Abu Thalib yang sudah uzur (80 tahun) mulai lemah dan sakit-sakitan. Beliau meninggal beberapa bulan setelah peristiwa pemboikotan di Syi'b Bani Hasyim, tepatnya bulan Rajab tahun 10 kenabian.

Rasulullah sangat terpukul dengan wafatnya Abu Thalib yang selama ini sangat totalitas dalam melakukan pembelaan terhadap beliau. Semakin dalam kepedihan yang beliau rasakan ketika dua bulan kemudian, pada bulan Ramadhan, Khadijah pun menghembuskan napas terakhir.

Rasulullah pernah bersabda tentang Bunda Khadijah, "Dia beriman kepadaku saat semua orang mengingkariku. Dia membenarkanku sewaktu semua orang mendustakanku. Dia mendukungku dnegan hartanya selagi semua orang menghalangiku. Allah menganugerahiku anak darinya sementara aku tidak punya anak dari yang lain." (HR Ahmad dalam Musnad, 6/118)

Khadijah dimakamkan di dataran tinggi Mekah yang dikenal dengan sebutan Al-Hajun atau disebut Jannatul Ma’la (pemakaman ma’la). Peristiwa wafatnya Abu Thalib dan Khadijah, telah membuat Rasulullah mengalami duka yang sanga mendalam, sehingga tahun 10 kenabian disebut juga sebagai ‘aamul huzni (tahun kesedihan).

Khadijah mendampingi Muhammad SAW selama 24 tahun, dan sejak wahyu kenabian, beliau mengalami masa-masa yang sangat berat. Namun, tak ada pernah ada keluh-kesah, tak sikap baper, bahkan beliau memberikan semua yang beliau miliki: cinta, perhatian, kasih sayang, jiwa, dan hartanya.

Dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah r.a., dia berkata: Jibril datang kepada Nabi SAW, lalu berkata: "Wahai, Rasulullah, ini Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan kepadanya salam dari Tuhan-nya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di surga, (terbuat) dari mutiara yang tiada suara ribut di dalamnya dan tiada kepayahan." (HR. Bukhari).

Penulis: Afifah Afra.


LihatTutupKomentar