Kekerasan Pecah Di India, 23 Terbunuh, Tagar #ShameOnYouIndia Menjadi Trending Topic

Kekerasan Pecah Di India, 23 Terbunuh, Tagar #ShameOnYouIndia Menjadi Trending Topic

Foto: REUTERS (24/2/2020)
Suasana di India kian mencekam. Kerusuhan yang disebabkan karena UU kewarganegaraan yang kontroversial, masih saja pecah di mana-mana. Data terakhir, sebagaimana dilansir dari bbc.com (26/2/2020), 23 orang telah terbunuh.

Gerombolan perusuh menjadikan rumah-rumah dan pertokoan milik umat Muslim sebagai sasaran amuk. Daerah-daerah muslim seperti Maujpur, Mustafabad, Jaffrabad dan Shiv Vihar terlihat sangat mencekam, penuh dengan pecahan kaca, batu dan bekas-bekas kerusuhan. Ini merupakan kekerasan paling mematikan yang pernah terjadi di New Delhi, ibu kota India.

Dalam sebuah foto di REUTERS (24/2/2020), tampak gambar seorang pria muslim berbaju putih berlumuran darah karena dikeroyok segerombolan orang. Gambar-gambar dan video yang memperlihatkan kekerasan banyak tersebar ke seluruh dunia. Netizen di Indonesia, khususnya kaum Muslimin pun memperlihatkan kemarahannya dengan menggaungkan tagar #ShameOnYouIndia yang menjadi trending topic.

Bentrok ini merupakan puncak dari protes yang telah terjadi sejak UU kontroversial tersebut disahkan pada Desember tahun lalu. Dilansir dari arabnews.com (25/2/2020), UU kewarganegaraan ini telah menimbulkan kekhawatiran, bahwa Perdana Menteri Narendra Modi bermaksud meminggirkan 200 juta Muslim di India. Kekhawatiran tersebut telah dibantah oleh Modi, namun nyatanya, di UU tersebut memang terdapat diskriminasi untuk kaum Muslimin.

UU tersebut memberikan kewarganegaraan kepada orang-orang Hindu, Parsi, Sikh, Budha, Jain dan Kristen dari luar negeri (Afghanistan, Bangladesh, Pakistan) yang mengungsi ke India, namun komunitas Muslim dikecualikan. Banyak kalangan merasa curiga, bahwa UU tersebut sebenarnya merupakan langkah Perdana Menteri Narendra Modi untuk memarginalkan 200 juta Muslim di India.

Bentrok keras yang dipicu UU kontroversial tersebut terjadi bersamaan dengan kedatangan presiden Donald Trump di New Delhi. Sebelumnya, protes keras telah terjadi di sebagian masyarakat India. Bahkan, banyak pula warga India yang bukan Muslim ikut memprotes UU diskriminatif tersebut.
LihatTutupKomentar