Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
banner
banner

Yuk, Pahami 3 Dimensi Cinta yang Bikin Cintamu “Sempurna”!


Seperti apa sih, cinta yang sempurna itu? Apakah seperti cinta yang digambarkan di novel-novel klasik romantis? Atau yang didendangkan para penyair dan pencipta tembang asmara? Lantas, kesempurnaan seperti apa sih, yang bisa dilakukan oleh seorang manusia? Barangkali, tulisan di bawah ini bisa menjelaskannya. Baca dengan seksama, ya!


Ada sebuah teori yang sangat terkenal tentang cinta, yang dicetuskan oleh Robert Stenberg, seorang psikolog ternama dari Amerika Serikat. Teori itu disebut dengan Teori Segitiga Cinta (the Triangular Theory of Love). Menurut Robert Stenberg, cinta yang sempurna, memiliki tiga dimensi, yakni passion (hasrat, gairah, gelora seksual, birahi), intimacy (keintiman, kedekatan, keakraban, persahabatan) dan commitment atau decision (komitmen, sikap bertanggungjawab dan memutuskan untuk hidup bersama dengan segala hak dan kewajibannya). 


Idealnya, para pecinta memadukan tiga hal ini dalam racikan cintanya, dengan dosis yang sama, sehingga membentuk segitiga dengan sudut yang sama. Menurut Stenberg, hal tersebut adalah cinta yang sempurna. Itulah mengapa teori ini disebut dengan teori segitiga cinta.


Jadi, rumah tangga yang ideal, mestinya terbangun dari tiga dimensi tersebut di atas. Jika akhirnya ada dimensi yang menipis, dimensi lain sebaiknya menguat. Misal, semakin menua, mungkin passion (gairah seksual) akan semakin menipis, namun tak mengapa jika dimensi intimacy meninggi dan komitmen tidak hilang. 


Memang, pada kenyataannya, sulit sekali untuk mengkolaborasikan tiga dimensi tersebut sekaligus. Sehingga, banyak ikatan pernikahan ternyata hanya dibangun oleh dua atau bahkan hanya satu dimensi belaka. Ada pasangan yang sangat meledak-ledak dalam passion, jatuh cinta “gila-gilaan”, tetapi lupa merawat keakraban dan juga sulit untuk menerapkan komitmen. 


Ada juga yang dimensi commitment sangat mendominasi, sampai-sampai menegasikan dua dimensi yang lain. Seorang lelaki, sebut saja bernama Randy, bekerja keras untuk memenuhi kewajibannya sebagai ayah dan suami, membanting tulang mencari nafkah dan membesarkan bisnisnya. Semua itu tentu dia lakukan untuk kebahagiaan sang istri, sebut saja Elia. Sayang, karena terlalu sibuk, dia sangat minus dalam masalah pemenuhan kasih sayang (intimacy), dan bahkan seks pun (passion) hanya dilakukan sekadar pemenuhan kebutuhan biologisnya selalu lelaki.


Dalam istilah Robert Stenberg, cinta yang hanya menyisakan commitment belaka disebut dengan empty love (cinta yang kosong). Itulah yang tengah terjadi pada pasangan tersebut di atas, Randy dan Elia. Maka, Jika sang istri sulit menerima hal tersebut, lalu datang lelaki lain yang menawarkan kehangatan dan kasih sayang, lalu memilih berselingkuh, apakah salah? Tetap salah, karena dia telah menanggalkan dimensi komitmen. Jika satu-satunya yang tersisa pun hilang, apa lagi yang bisa dipertahankan?


Di dalam ajaran agama—apapun, komitmen adalah sesuatu yang sangat besar nilainya. Menurut  ajaran agama Islam misalnya, komitmen diwujudkan dengan AQAD NIKAH yang merupakan sebuah perjanjian yang sangat kuat dan agung (MITSAQON GHOLIDZHO). 

Meskipun secara akal sehat, apa yang dilakukan Elia bisa diterima nalar, secara agama, dia telah memutus sebuah perjanjian yang sangat kuat tersebut dengan cara yang tidak sesuai syariah, yakni perselingkuhan.


Ya, kadang, di dalam kehidupan rumah tangga, kita memang harus bersabar dengan semua yang terjadi. Problematika yang ada, seyogyanya dimenej dengan baik, sehingga jangan sampai kita menanggalkan komitmen berupa memutus aqad nikah yang sangat luhur tersebut.


Di dalam berumah tangga, cinta saja tidak cukup. Yang paling utama adalah komitmen kuat, yang merupakan ujud dari sebuah kesetiaan. Jangan pernah memilih untuk tidak setia, meskipun rumah tangga kita kering akan cinta. Yang perlu kita lakukan bukan memutus komitmen, karena itu sama halnya dengan mencabut pohon rumah tangga dan membiarkan mati. Jika pohon rumah tangga layu, maka yang perlu dilakukan adalah dengan menyirami, memupuk, dan menjauhkan dari teriknya sinar matahari.


Akan tetapi, empty love tetaplah sebuah kondisi yang perlu diwaspadai. Randy harus melakukan introspeksi mendalam. Bagaimanapun, Elia tetap butuh kasih sayang, sentuhan passion dan intimacy. Ya, cinta yang sempurna (dalam ukuran manusia), membutuhkan 3 dimensi tersebut secara proporsional. Komitmen, gairah dan keakraban. Yuk, cek lagi apakah dimensi cinta itu ada pada kita dan pasangan?


Penulis: Afifah Afra

Posting Komentar untuk " Yuk, Pahami 3 Dimensi Cinta yang Bikin Cintamu “Sempurna”!"

banner
banner
banner
banner