Maraknya Pembuangan Bayi di Gorontalo, Novi Usu Sayangkan Kurangnya Peran Negara dan Masyarakat

Maraknya Pembuangan Bayi di Gorontalo, Novi Usu Sayangkan Kurangnya Peran Negara dan Masyarakat

Novi Usu, MA/ Perpustakaan/ @Noviusu_cloyfan
Demuslim.com, Gorontalo -  Maraknya pembuangan bayi di Gorontalo menjadi sorotan publik, terutama dua tahun terakhir (2019-2020).

Berdasarkan data yang dikumpulkan Demuslim.com, tercatat bahwa pada 25 juni 2019 terjadi pembuangan bayi laki-laki di desa Marisa Utara, kecamatan Marisa, Pohuwato. Bayi laki-laki ditinggalkan pelaku di depan rumah warga, dan bayi masih dalam keadaan sehat.

Kasus selanjutnya pembuangan bayi laki-laki kembali terjadi di desa Lahumbo, kecamatan Tilamuta, pada 22 juli 2019 lalu. Sayangnya bayi tersebut bernasib malang. Saat ditemukan warga bayi telah meninggal dunia.

Tak perlu menunggu lama, hanya berselang sehari, Janin bayi laki-laki kembali ditemukan warga di Kelurahan Heledulaa Utara, Kota Timur, Kota Gorontalo pada 23 juli 2019. Bayi dibuang dalam kondisi terisi di dalam tas kresek (tas plastik) warna hitam.

Berselang 4 hari selanjutnya, pada 27 juli 2019,  Bayi lagi ditemukan di kelurahan Talumolo, Dumbo Raya, Kota Gorontalo. Bayi yang berusia sekitar 3 bulan itu ditemukan persis di lapangan Ampi Talumolo.

Pada awal tahun 2020, persisnya 23 Februari 2020, sosok bayi kembali ditemukan warga desa Bhakti, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo. Bayi kali ini dibuang di teras Masjid

Tampaknya fenomena pembuangan bayi ini menjadi kasus yang menarik di wilayah serambi Madinah, Gorontalo. Daerah yang mengusung jargon islam ini sepertinya dalam kondisi tidak stabil seiring dengan kemajuan daerahnya.

Menanggapi hal ini, Novi R usu, MA, perempuan lulusan  Flinder University (2009), Australia, yang fokus pada kajian studi perempuan ini, menyayangkan kurangnya peran negara dan Masyarakat dalam kasus pembuangan bayi di Gorontalo.

Menurut Novi, paling tidak ada beberapa alasan mengapa aksi pembuangan bayi terjadi. Antara lain, kurangnya support System dari negara. Negara belum menjamin nasib perempuan yang hamil di luar nikah. Baik keamanan dan perlindungan kehidupannya. Sehingga pelaku merasa ketakutan dan merasa kehilangan dukungan lahir batin.

"Aksi pembuangan bayi ini bisa dipicu rasa takut dan hilangnya dukungan dari siapapun, termasuk negara." tegas Novi, ketua jurusan pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Gorontalo ini.

Selain itu, Novi menjelaskan, faktor pendorong pembuangan bayi juga diakibatkan timbulnya ketakutan dan stigma buruk di masyarakat, khususnya bagi perempuan yang hamil di luar nikah. Padahal, menurut Novi, perempuan yang telanjur berbuat seks bebas dan hamil, harusnya mendapatkan dukungan agar menimbulkan rasa kepercayaan diri dan pemulihan mental.

Alasan pemberian dukungan bukan serta merta mendukung aktivitas seks bebas. Melainkan memberi dukungan ketika sudah terjadi kehamilan dan sudah disesali. Sehingga perlu dukungan positif, bukan dicela yang membuat seseorang menjadi patah semangat dan bisa jadi mengalami depresi dalam hidupnya.

 "Masyarakat kita cenderung membiarkan dan melupakan, bahkan pura-pura tidak tau dengan kejadian seperti ini (pembuangan bayi)." tegas Novi saat diwawancai tim demuslim.com

 Novi menjelaskan, kejadian hamil di luar nikah hingga pembuangan bayi juga memang diakibatkan hilangnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sosial. Ketika melihat aktivitas pergaulan bebas, cenderung apatis dan tidak mau ikut campur.

"Harusnya adanya edukasi seks aman. Hal ini untuk mencegah seks bebas dan upaya penanganan. Contoh di Barat aktivitas seks bebas sudah menjadi fenomena yang tak bisa dihindari lagi. Akhirnya negara ambil peran melakukan pendidikan seks aman sejak dini. Ketika terjadi seks bebas dan hamil, maka masyarakat dan negara sudah tahu apa yang harusnya dilakukan. Bahkan, negara sudah menyedikan psikiater dan support system lainnya." jelas Novi.

Upaya yang dilakukan di atas, menurut Novi, untuk mengurusi anak-anak muda yang telanjur salah langkah. Sehingga anak muda ini, khususnya perempuan yang telah hamil, harusnya mendapatkan jaminan bisa hidup normal kembali setelah kesalahan yang dia lakukan.Alasannya, menurut Novi, tentu mereka juga punya hak hidup.

"Jadi, posisinya kesalahan mereka tidak murni karena kesalahan personal, tapi kesalahan masyarakat dan pemerintah juga." tegas Novi, wanita yang telah dikaruniai dua anak itu.


Salah satu contoh yang menjadi gambaran Novi, semisal kasus pacaran. Novi Usu sering mendidik anak muda dengan tema-tema pacaran.

"Pacaran itu tidak baik. Sebaiknya jadi Friendzone." kata Novi.

Friendzone yang dimaksud adalah sebuah relasi di antara perempuan dan laki-laki yang saling mengagumi. Mereka bisa beraktivitas sama-sama dalam momen yang disukai. Sementara pacaran menurut Novi, adalah hubungan yang hanya berorientasi seks, sehingga membuat orang salah langkah dan hamil di luar nikah.

Meski begitu, Novi masih memberikan sebuah konsep friendzone sebagai alternatif. Karena dalam statusnya, agama masih menilai hubungan seperti itu masih melanggar, terutama dalam tafsiran orang-orang tertentu. Padahal Friendzone orientasi hubungan sosial yang menyenangkan.

"Larangan ini menurut saya secara halus. Karena kalau serta merta dilarangan pacaran, anak muda cenderung memberontak. Paling aman kita menggunakan sebuah edukasi yang lebih halus." Novi menambahkan.

Pada kesimpulannya, "Tindakan hamil di luar nikah sampai aksi pembuangan bayi, tidak hanya kesalahan individu. Tapi ini adalah kesalahan kita berjamaah. Karena tidak adanya formula pendidikan yang baik soal seks, support system negara dan masyarakat" tutur Novi. [Demuslim.com /Idgorontalo]
LihatTutupKomentar