Widget HTML #1

judul gambar

10 Muwāshafāt Tarbiyah: Bagaimana Pribadi Muslim Terbentuk?

 


Sebenarnya, sosok yang disebut memiliki kepribadian Islami itu seperti apa? Apakah identik dengan sosok Muslimah berjilbab panjang atau Pria bergamis dan berjenggot lebat? Atau juga yang bersarung dan berkopiah? Mungkin di antara Sobat ada yang bertanya-tanya seputar hal itu. Sejatinnya, kepribadian bukan hanya dipandang simat, atau tanda-tanda khusus yang terlihat dari seseorang, tetapi juga hal-hal pada diri seseorang yang tak terlihat, namun mempengaruhi sikap dan perilaku orang tersebut. Itulah yang disebut dengan kepribadian.

Kepribadian sering didefinisikan sebagai keseluruhan cara seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain, dan juga kumpulan ciri-ciri khas yang menonjol pada diri individu tersebut, yang membedakan dengan orang lain.

Dalam tradisi tarbiyah Islam, dikenal sebuah konsep penting yang disebut Muwāshafāt Tarbiyah. Istilah ini merujuk pada seperangkat karakter atau sifat ideal yang menjadi target pembinaan seorang Muslim agar tumbuh sebagai pribadi yang seimbang antara iman, ibadah, akhlak, intelektualitas, fisik, dan peran sosial. Jadi, bisa dikatakan, Muwāshafāt Tarbiyah adalah gambaran kepribadian yang ideal dari seorang Muslim.

Muwāshafāt Tarbiyah bukan sekadar daftar moral normatif, melainkan kerangka pembentukan manusia seutuhnya (insān kāmil) yang mampu menjalani peran sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di muka bumi. Berikut adalah sepuluh muwāshafāt tarbiyah beserta penjelasannya. Simak, yuk!

1. Salīmul ‘Aqīdah (سَلِيمُ الْعَقِيدَةِ) – Aqidah yang Lurus

Salīmul ‘aqīdah berarti seorang Muslim semestinya memiliki keyakinan yang bersih dan lurus, berlandaskan tauhid yang murni. Yakni bahwa seorang Muslim harus mengesakan Allah dalam segala aspek, tidak menyekutukan dengan yang lain atau syirik. Aqidah menjadi fondasi utama seluruh bangunan kepribadian Muslim. Tanpa aqidah yang benar, amal ibadah dan akhlak kehilangan arah dan nilai spiritualnya.

Aqidah yang lurus membebaskan manusia dari ketergantungan kepada selain Allah, baik dalam bentuk berhala fisik maupun “berhala modern” seperti kekuasaan, harta, atau popularitas.

Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.” (QS. Muhammad: 19)

2. Shahīḥul ‘Ibādah (صَحِيحُ الْعِبَادَةِ) – Ibadah yang Benar

Ibadah yang benar adalah ibadah yang dilaksanakan sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ. Dalam tarbiyah Islamiyah, kualitas ibadah tidak hanya diukur dari kuantitas, tetapi dari kesesuaian tuntunan dan keikhlasan niat. Ibadah bukan hanya sekadar penggugur kewajiban atau ritualitas belakan, namun memiliki banyak dimensi. 

Ibadah mencakup dimensi ritual (shalat, puasa, zakat) maupun ibadah sosial yang diniatkan karena Allah. Dengan ibadah yang shahih, seorang Muslim menjaga hubungan vertikalnya dengan Allah secara konsisten.

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari)

3. Matīnul Khuluq (مَتِينُ الْخُلُقِ) – Akhlak yang Kokoh

Akhlak yang kokoh merupakan cerminan keimanan. Seorang Muslim tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga menghadirkan nilai Islam dalam sikap, ucapan, dan perilaku sehari-hari.

Matīnul khuluq meliputi kejujuran, amanah, kesabaran, rendah hati, dan kemampuan menahan amarah. Akhlak menjadi medium dakwah paling efektif karena menyentuh manusia secara langsung.

Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

4. Qawiyyul Jism (قَوِيُّ الْجِسْمِ) – Jasmani yang Kuat

Islam memandang tubuh sebagai amanah. Kekuatan fisik dibutuhkan untuk menjalankan ibadah, bekerja, berdakwah, dan melayani umat. Tarbiyah tidak memisahkan antara kesalehan spiritual dan kesehatan jasmani.

Menjaga pola makan, olahraga, dan kebersihan adalah bagian dari ibadah jika diniatkan untuk ketaatan kepada Allah.

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim)

5. Mutsaaqaf ul-Fikr (مُثَقَّفُ الْفِكْرِ) – Intelektual dan Berwawasan

Seorang Muslim ideal adalah pribadi yang berilmu dan berpikir kritis. Ia memahami agamanya dengan baik sekaligus terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan realitas zaman.

Wawasan intelektual mencegah sikap fanatik buta dan menjadikan Muslim mampu memberikan solusi atas persoalan umat dan kemanusiaan.

Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)

6. Mujāhidun Linafsih (مُجَاهِدٌ لِنَفْسِهِ) – Berjuang Melawan Hawa Nafsu

Jihad terbesar adalah jihad melawan diri sendiri. Mujāhidun linafsih berarti kesungguhan dalam mengendalikan hawa nafsu, menolak maksiat, dan istiqamah dalam kebaikan.

Tarbiyah menanamkan kesadaran bahwa kemenangan sejati bukan menaklukkan orang lain, tetapi menundukkan ego dan syahwat.

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

7. Ḥarīṣun ‘Alā Waqtih (حَرِيصٌ عَلَى وَقْتِهِ) – Menjaga Waktu

Waktu adalah modal hidup yang tidak tergantikan. Seorang Muslim tarbiyah harus menghargai waktu dan menggunakannya secara produktif.

Kesadaran waktu melahirkan disiplin, perencanaan hidup, dan orientasi amal jangka panjang.

Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian.” (QS. Al-‘Ashr: 1–2)

8. Munazhzhamun fī Syu’ūnih (مُنَظَّمٌ فِي شُؤُونِهِ) – Teratur dalam Urusan

Keteraturan adalah cerminan kematangan pribadi. Seorang Muslim terlatih untuk rapi dalam berpikir, bekerja, dan berorganisasi.

Sikap teratur memudahkan kerja kolektif dan memperkuat peran sosial umat Islam.

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur.” (QS. Ash-Shaff: 4)

9. Qādirun ‘Alal Kasb (قَادِرٌ عَلَى الْكَسْبِ) – Mandiri secara Ekonomi

Kemandirian ekonomi menjaga kehormatan seorang Muslim. Ia bekerja dengan cara halal, tidak menggantungkan hidup pada orang lain, dan sebaiknya selain mandiri, diharapkan dia juga mampu memberi, karena tangan di atas (memberi) lebih baik dari tangan yang di bawah (menerima).

Tarbiyah mendorong etos kerja, profesionalisme, dan kejujuran dalam muamalah.

Tidak ada makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)

10. Nāfi‘un Lighairih (نَافِعٌ لِغَيْرِهِ) – Bermanfaat bagi Orang Lain

Puncak tarbiyah adalah kebermanfaatan. Muslim tidak hidup untuk dirinya sendiri, tetapi hadir sebagai rahmat bagi lingkungan dan masyarakat. Dia tidak menumpuk kekayaan, menimbun ilmu, membangun istana megah untuk dirinya sendiri, namun untuk sebanyak mungkin berguna bagi masyarakat. 

Kebermanfaatan bisa berupa ilmu, tenaga, harta, maupun keteladanan sikap. Karena, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Penutup

Sepuluh muwāshafāt tarbiyah ini membentuk kerangka kepribadian Muslim yang utuh, seimbang, dan relevan lintas zaman. Seorang muslim sebaiknya tidak hanya saleh secara individu, tetapi juga berdaya guna secara sosial.

Dalam konteks pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat, muwāshafāt tarbiyah dapat menjadi peta jalan pembentukan karakter, sekaligus tolok ukur keberhasilan proses tarbiyah yang berkelanjutan. Jika kita semua adalah penggerak Tarbiyah Islamiyyah, mari kita jadikan 10 hal tersebut sebagai tolok ukur dari kepribadian kita. Semoga Allah SWT memudahkan kita semua dalam mencapai hal-hal tersebut.


Posting Komentar untuk "10 Muwāshafāt Tarbiyah: Bagaimana Pribadi Muslim Terbentuk?"