72 Milyar Untuk Influencer, Akankah Dampak Virus Corona Mampu Diredam?

72 Milyar Untuk Influencer, Akankah Dampak Virus Corona Mampu Diredam?

Foto: nytimes.com
Sepinya pariwisata akibat virus corona, ternyata membuat resah sejumlah kalangan, termasuk pemerintah Indonesia. Untuk menghadapi problem ini, dana sebesar 72 Milyar akan dikucurkan untuk membayar influencer. Diharapkan, influencer ini akan memberikan pengaruh positif kepada masyarakat, sehingga tidak ragu untuk mengunjungi tempat-tempat pariwisata dan menggerakan kembali perekonomian dari jalur ini.

Dilansir dari nytimes.com (20/2/2020), sekitar 75.000 kasus infeksi virus corona telah terjadi di seluruh dunia, dengan China sebagai negara terbesar yang terkena kasus ini. 2.442 pengidap infeksi mengalami kematian akibat coronavirus. Banyak negara terkena dampak coronavirus ini, termasuk Indonesia.

Di Bali misalnya, penurunan wisatawan, khususnya dari China turun hingga 10%. Menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama, sebagaimana dikutip dari tempo.co (19/2/2020), sejumlah pegawai hotel dan restoran di Bali diliburkan sementara waktu akibat sepinya kunjungan wisatawan.

Dana Rp 75 milyar merupakan sebagian dari total Rp 298 milyar yang rencananya akan dikeluarkan pemerintah untuk mengatasi problematikan ini. Dilansir dari cnnindonesia.com (26/2/2020), selain untuk membayar influencer (Rp 72 milyar), juga untuk promosi (Rp 103 milyar), kegiatan pariwisata (Rp 25 milyar) dan maskapai serta agen perjalanan (Rp 98,5 milyar).

Jika dana tersebut benar-benar digelontorkan, maka para influencer seperti Blogger, Youtuber, dan "pegiat" media sosial yang dikontrak, akan mendapatkan rezeki lumayan besar. Tetapi, tugas mereka berat, yakni membangun opini bahwa pariwisata Indonesia baik-baik saja meski sedang merebak isu coronavirus alias covid-19 ini.

Tetapi, benarkah pariwisata baik-baik saja? Menggunakan influencer untuk meredam dampak covid-19 memang sah-sah saja, tetapi, harus diimbangi dengan upaya meredam persebaran covid-19 dalam artian sebenarnya.

Beberapa waktu yang lalu, WHO mengungkapkan kekhawatirannya bahwa RI tak bisa mendeteksi penyebaran virus corona. Namun hal tersebut diklarifikasi oleh Dr. N. Paranietharan, perwakilan WHO untuk Indonesia. Dilansir dari liputan6.com (11/2/2020), menurut Paranietharan, Indonesia punya alat pendeteksi Covid-19, yaitu PCR (Polymerase Chain Reaction).

Namun PCR yang dimiliki Indonesia membutuhkan waktu lama untuk bisa mendeteksi Covid-19, yakni paling cepat 2 hari. Tetapi, Indonesia sudah memesan alat PCR spesifik yang bisa mendeteksi Covid-19 dalam hitungan jam.

Influencer hanya bisa membangun citra positif. Kita berharap, pihak-pihak berwenang di negeri ini benar-benar sigap didalam melawan virus Covid-19, sehingga wisatawan benar-benar nyaman untuk berlibur kemanapun yang dia sukai.
LihatTutupKomentar