Menghargai dan Dihargai adalah Fitrah Manusia

Menghargai dan Dihargai adalah Fitrah Manusia

Inspirasi dari Ust. Tengku Zulkifli Usman

Kalau mau dihargai maka hargailah orang lain, kalau mau rasa hormat maka hormati orang lain.

Orang orang besar suka menghargai dan bahkan tidak grogi dalam memuji siapapun termasuk lawannya.

Sedangkan orang kerdil paling sulit memuji orang lain atas kelebihan mereka. Orang kerdil cenderung hanya mau dipuji dan tidak siap memuji.

Seorang pemimpin adalah sosok yang pandai menghargai yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin adalah orang yang rasa peka dan sensitifitasnya soal ini diatas rata rata orang yang dia pimpin.

Banyak pemimpin kerdil yang tidak pandai menghargai followernya dengan dalih followernya melakukan sesuatu karena ikhlas.

Penghargaan tidak ada kaitan dengan niat, baik seorang follower melakukan sesuatu dengan iklas atau tidak. Kalau memang baik tetap harus dihargai.

Maka jangan protes saat seorang follower memutuskan pindah ke suatu kereta yang lain karena kurang dihargai.

Sudah fitrah manusia, apapun afiliasi partai dan ormasnya dia senang berada di sebuah komunitas dimana dia bisa dihargai sesuai takarannya.

Semua potensi orang berbeda beda, semua kadar kontribusi orang juga berbeda beda. Karena berbeda itulah maka sikap saling menghargai orang lain itu harus diasah.

Semua karakter follower itu berbeda beda, maka seorang pemimpin yang baik tau cara menghargai karya karya mereka.

Pemimpin kerdil itu biasanya tidak pandai menghargai, tidak pandai memuji dan tidak sensitif dengan rasa hormat apalagi kepada orang dibawahnya.

Pemimpin model begini hanya senang dipuja puji dan disanjung, tapi tidak senang kalau followernya punya kelebihan diatasnya. Ibarat kata pepatah"mereka ingin kamu melakukan suatu hal lebih baik, tapi jangan sampai kamu melebihi dia".

Bahkan ada yang lebih kerdil diantara mereka, yaitu pemimpin yang menganggap followernya adalah musuh, hanya karena bawahannya punya kapasitas yang lebih baik dari dirinya.

Ratusan buku soal leadership akan tidak berguna kalau seorang pemimpin tidak bisa dan tidak pandai menghargai bawahannya.

Karena salah satu ciri pemimpin sukses itu adalah yang punya "sense of giving" yang bagus. Memberi pujian, memberi apresiasi, memberi semangat, kalau bisa juga memberi materi, dst.

Kalau materi tidak mampu diberi, lalu hanya sekedar sebuah pujian dan penghargaan yang tulus juga susah, lalu apa esensi kita jadi pemimpin? Apa bedanya kita dengan follower?

Akan lebih mudah memberikan 1000 seminar motivasi dan menghadiri 1000 forum leadership. Tapi ilmu memimpin bukan ilmu teori belaka. Dia adalah praktek.

Semoga kita lebih pandai menghargai orang lain, menghargai bawahan kita, menghargai orang yang mau berbuat dengan segala keterbatasannya.

Semoga kita menjadi pemimpin yang punya rasa kepekaan yang tinggi kepada orang lain. Punya rasa simpati dan apresiasi yang tulus kepada follower kita.

Memimpin bukan amal teori, dia adalah praktek jangka panjang dan sebuah ujian konsistensi agar orang lain tau, apakah narasi kita sesuai dengan realitas di lapangan?

Gelorakan Semangat Indonesia.
Penulis : ust. Tengku Zulkifli Usman
LihatTutupKomentar