Widget HTML #1

judul gambar

Fixed Mindset Vs Growth Mindset, Mana Cara Berpikir yang Berefek Pada Kesuksesan?


Sobat De Muslim, barangkali kita pernah merasa menjadi orang yang tak bisa apa-apa. Sebal sekai bukan? Saat orang lain selalu memiliki capaian prestasi, kita justru merasa tidak punya bakat apapun dan terpuruk dalam sebuah mindset yang menyebalkan: ya, sejak dulu aku memang seperti ini, aku nggak berkembang, tetap terbelakang, tidak ada progres, dan sebagainya. 

Ungkapan semacam ini terdengar biasa, tetapi dalam kajian psikologi, pola pikir semacam itu berbahaya, lho! Hal tersebut mencerminkan pola pikir mendasar yang sangat memengaruhi cara seseorang dalam belajar, berjuang, dan menyikapi kegagalan. Menurut Carol Dweck, seorang psikolog dan profesor psikologi dari Stanford University, Amerika Serikat, mindset ini disebut sebagai fixed mindset. Sebuah pemikiran bahwa kita ya seperti inilah, sudah baku, tidak akan menjadi lebih baik. Kita ya begini-begini saja. Sejak lahir sampai saat ini.

Siapa sih, Carol Dweck? Beliau dikenal sebagai tokoh penting dalam psikologi pendidikan dan motivasi. Melalui riset panjang berbasis eksperimen ilmiah, beliau menemukan bahwa keyakinan seseorang tentang kemampuan dirinya ternyata lebih menentukan keberhasilan dibandingkan kemampuan awal itu sendiri. Dari sinilah lahir teori terkenal tentang fixed mindset versus growth mindset. Pemikiran ini sangat penting, oleh karenanya banyak diterapkan dalam dunia pendidikan, parenting, kepemimpinan, hingga pengembangan diri. Sobat DeMuslim juga harus cermat banget dan merenungi hal ini dengan mendalam, lho.

Fixed Mindset

Fixed mindset adalah pola pikir yang meyakini bahwa kecerdasan, bakat, dan kemampuan bersifat tetap. Ngerinya, kadang orang cenderung menyalahkan nasib. Ya memang sudah begini nasibku, diciptakan sebagai orang biasa-biasa saja yang tidak memiliki prestasi apapun.

Orang dengan mindset ini cenderung melihat kemampuan sebagai sesuatu yang “sudah jadi”, sehingga tantangan sering dianggap ancaman. Ketika melihat orang kaya, dia tidak mau melihat bahwa untuk mencapai kesuksesan, sudah hampir pasti mereka bekerja keras untuk hal tersebut. Privilese memang ada. Tapi, betapa banyak orang menjadi jatuh miskin meski warisan seabrek, gara-gara tidak mau meneruskan kerja keras leluhurnya?

Kegagalan pada orang dengan mindset semacam ini dipersepsikan sebagai bukti ketidakmampuan, bukan sebagai proses belajar. Akibatnya, individu dengan fixed mindset cenderung menghindari tantangan, mudah menyerah, dan defensif terhadap kritik karena merasa harga dirinya sedang dipertaruhkan.

Growth Mindset

Sebaliknya, growth mindset adalah sebuah pemikiran berpijak pada keyakinan bahwa orang bisa berkembang. Kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha, latihan, strategi yang tepat, dan proses belajar yang berkelanjutan. Dalam pola pikir ini, kegagalan tidak dipandang sebagai akhir, melainkan sebagai bagian dari perjalanan. Tantangan justru dilihat sebagai sarana melatih diri, dan kritik diterima sebagai bahan evaluasi, bukan ancaman personal. Carol Dweck menegaskan bahwa growth mindset bukan berarti seseorang selalu berhasil, melainkan tetap mau belajar meski menghadapi kesulitan.

Menariknya, teori ini tidak hanya berhenti pada ranah psikologis, tetapi memiliki dasar ilmiah dalam ilmu saraf modern melalui konsep neuroplasticity. Neuroplasticity adalah kemampuan otak manusia untuk berubah dan membentuk koneksi saraf baru sebagai respons terhadap pengalaman dan latihan. Penelitian neuroscience menunjukkan bahwa otak tidak statis. Setiap kali seseorang belajar, mencoba strategi baru, atau berlatih dengan konsisten, jaringan neuron di otak ikut menyesuaikan dan menguat.

Di sinilah growth mindset mendapatkan pijakan biologisnya. Keyakinan bahwa diri bisa berkembang sejalan dengan fakta bahwa otak memang dirancang untuk bertumbuh. Sebaliknya, fixed mindset cenderung mengabaikan potensi neuroplasticity, seolah-olah kapasitas otak sudah selesai dibentuk sejak lahir. Padahal, proses belajar yang terasa berat, lambat, dan penuh kesalahan justru merupakan tanda bahwa otak sedang bekerja membangun jalur baru.

Sobat De Muslim, pemahaman ini penting agar kita tidak terjebak dalam label diri yang melemahkan. Ucapan seperti “aku memang tidak pintar” bukan hanya ekspresi perasaan, tetapi bisa menjadi penghambat psikologis yang menghentikan usaha. Growth mindset mengajak kita mengubahnya menjadi “aku belum bisa, tapi sedang belajar”. Perubahan sederhana ini mampu menggeser cara otak merespons tantangan.

Lebih jauh, konsep growth mindset dan neuroplasticity selaras dengan nilai ikhtiar dalam Islam. Kesungguhan berusaha, kesabaran dalam proses, dan keyakinan bahwa perubahan terjadi melalui usaha yang terus-menerus merupakan prinsip yang sejalan dengan cara kerja otak manusia. Ketika kita berikhtiar, bukan hanya mental yang bertumbuh, tetapi struktur otak kita pun ikut berkembang.

Akhirnya, Sobat De Muslim, perbedaan fixed mindset dan growth mindset membuat kita tersadar, ternyata yang paling sukses bukan siapa yang paling cerdas, tetapi siapa yang mau terus belajar dan bertumbuh. Melalui temuan Carol Dweck dan dukungan ilmu neuroscience, kita diingatkan bahwa perubahan memang berasal dari harapan, tetapi potensi nyata yang Allah titipkan dalam diri manusia merupakan penentu utama keberhasilan seseorang.

Salam sukses!


Posting Komentar untuk " Fixed Mindset Vs Growth Mindset, Mana Cara Berpikir yang Berefek Pada Kesuksesan?"