Akik dan Penghimpun Senja, Novel Afifah Afra Tentang Susur Gua dan Eksotisme Pantai Pacitan

Cover Akik dan Penghimpun Senja, karya Afifah Afra

Bicara tentang gua dan pantai, tentu kita tak akan lepas dari sebuah nama: Pacitan. Kabupaten di Jawa Timur yang terletak di pesisir selatan Jawa, berbatasan dengan kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah ini, tak hanya dikenal karena merupakan tempat kelahiran presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Daerah ini juga terkenal dengan keindahan pantai dan guanya. Sebagai daerah dengan tipe bentang alam karst, lekak-lekuk pantai menjanjinya keindahan. Juga guanya yang dipenuhi dengan stalagtit dan stalagmit.

Afifah Afra, mencoba mengemas keindahan itu dalam sebuan novel yang apik, juga romantis. Berkisah tentang seorang mahasiswa cerdas, idealis dan selalu berusaha untuk taat kepada ajaran agamanya: Fahira Azalea. Sebagai seorang aktivis di kegiatan keagamaan di kampusnya, Fahira memang sangat menjaga interaksi dengan lawan jenis. Akan tetapi, karena kebutuhan risetnya yang tergolong ekstrim untuk ukuran seorang "akhwat", yakni meneliti gua Luweng Jaran, sebuah gua yang disebut-sebut terpanjang di Asia Tenggara, dia harus berinteraksi dengan Anton. Bukan masalah, jika Anton bukan seorang bad boy yang dikenal urakan, jarang masuk kuliah, berantakan, dan sederet predikat negatif lainnya. Sayangnya, memang hanya Anton, seorang pecinta alam yang sangat berpengalaman, yang dianggap mampu mendampinginya melakukan riset ekstrim tersebut.

Anton sendiri, tertarik mendampingi Fahira justru karena dia merindukan sesosok perempuan yang selalu menghabiskan senja di Pantai Klayar. Seorang penghimpun senja. Rinanti, sosok yang mungkin tak berarti buat siapapun, kecuali bagi seorang Anton.

* * *

Puisi dalam novel ini sungguh romantis, menggambarkan suasana hati yang diombang-ambing rasa gundah gulana. 

Sejak purba, senja mati dalam usia muda

Aku hanya mampu menggunting senja*

Menyimpannya di sudut hati

Dan membukanya saat aku tak tahu

Bagaimana obati penyakit rindu

*) kalimat menggunting senja terinspirasi dari cerpen “Sepotong Senja Untuk Pacarku”, karya Seno Gumira Ajidarma

Penasaran dengan isi novel ini? Yuk simak sinopsis yang tercantum di covernya!

SINOPSIS

Acintyacunyata  

Sunyi, sepi ... gelap abadi

tak peduli, terus menapak gagah

Satu demi satu langkah menjangkah 

Satu demi satu misteri terpecah

Bagi sang kelana, 

Hidup adalah mendedah zirah 

Nan melangit di lengkung semesta

….

Sekelompok peneliti muda menelisik lurung-lurung gulita gua yang masih menyimpan seribu rahasia dengan harapan seluas samudra. Namun, elan yang membara harus berbenturan dengan amarah sang penghimpun akik. Nyawa pun menjadi taruhan. Tak ada yang bisa menahan, bahkan juga cinta sejati sang penghimpun senja.

Debur ombak pantai selatan, pantai yang penuh kenangan, pun menjadi saksi atas laranya harapan yang berbentur dengan kenyataan. Tetapi, semua toh akhirnya melarut dalam jingganya senja. Buktinya, dia mampu menghimpun empat ribu delapan ratus dua puluh tiga senja dalam hidupnya.

* * *

Afifah Afra telah menulis lebih dari 60 judul buku. Beberapa penghargaan yang telah diterima antara lain Penulis Terpuji Anugerah Pena 2013 dari Forum Lingkar Pena, Juara 2 Lomba Menulis Cerpen Remaja Rohto-Raya Kultura 2011, dan Anugerah Prasidatama 2014 Kategori Tokoh Sastra Indonesia dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Selain aktif sebagai Sekjen Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena, Afra juga bekerja sebagai CEO di PT Indiva Media Kreasi. Afra aktif menulis di blog www.afifahafra.net. Komunikasi juga bisa dilakukan melalui akun Twitter @afifahafra79 atau akun facebook www.facebook.com/afifahafrapenulis. Atau blognya www.afifahafra.com.

Novel ini juga bisa dipesan di SHOPEE.

Belum ada Komentar untuk "Akik dan Penghimpun Senja, Novel Afifah Afra Tentang Susur Gua dan Eksotisme Pantai Pacitan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

banner

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

banner