Awas Brainrot, Jangan Biarkan Otak Kita Busuk!
Belakangan ini, istilah brainrot semakin sering terdengar, terutama di kalangan anak muda dan pengguna media sosial aktif. Brainrot secara sederhana bisa dipahami sebagai kondisi ketika otak mengalami “pembusukan fungsional”, bukan secara fisik, tetapi secara kognitif dan mental, akibat konsumsi konten berlebihan, dangkal, repetitif, dan minim makna. Sahabat DeMuslim, ini bukan istilah medis resmi, tetapi fenomenanya nyata dan semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Brainrot biasanya muncul dari kebiasaan scrolling tanpa henti, menonton video pendek bertubi-tubi, konsumsi gosip, drama, dan konten instan yang memicu tawa sesaat tetapi tidak memberi nutrisi berpikir. Otak dipaksa bekerja cepat, berpindah fokus terus-menerus, tanpa jeda untuk mencerna atau merefleksi. Akibatnya, kemampuan konsentrasi menurun, daya ingat melemah, dan pikiran menjadi mudah lelah. Banyak orang merasa “capek tapi tidak tahu capek karena apa”. Itulah salah satu wajah brainrot.
Dari aspek kognitif, brainrot membuat otak terbiasa dengan rangsangan cepat dan dangkal. Akibatnya, membaca teks panjang terasa berat, berpikir mendalam terasa melelahkan, dan diskusi bermakna terasa membosankan. Ini berbahaya karena manusia sejatinya diciptakan dengan akal untuk berpikir, merenung, dan mengambil hikmah. Jika dibiarkan, brainrot bisa menggerus kemampuan analisis, empati, dan nalar kritis.
Dari sisi sikap (attitude), brainrot sering melahirkan mental serba instan, mudah bosan, mudah mengeluh, dan sulit bersabar. Hal kecil terasa berat, proses terasa menyiksa, dan kesenangan harus selalu cepat. Padahal, kedewasaan mental dibangun dari kemampuan menunda kesenangan dan menikmati proses. Sikap seperti ini, jika tidak disadari, bisa menjauhkan seseorang dari ketangguhan jiwa.
Dari sisi perilaku, brainrot tampak dalam kebiasaan rebahan berjam-jam, menunda pekerjaan, malas bergerak, dan kecanduan gawai. Waktu habis, tapi tidak terasa bermakna. Energi terkuras, tapi tidak jelas untuk apa. Inilah yang membuat banyak orang merasa hampa meski “sibuk” sepanjang hari.
Dari aspek spiritual, brainrot lebih berbahaya lagi. Hati menjadi sulit khusyuk, dzikir terasa berat, membaca Al-Qur’an cepat lelah, dan ibadah terasa hambar. Bukan karena iman hilang, tetapi karena pikiran terlalu bising oleh stimulus dunia. Padahal, ketenangan spiritual membutuhkan ruang hening di dalam diri. Jika pikiran terus dijejali hal remeh, ruang itu tertutup.
Lalu, bagaimana agar Sahabat DeMuslim terhindar dari brainrot?
Secara kognitif, latih kembali otak dengan aktivitas bermakna: membaca buku, menulis, merenung, berdiskusi, dan belajar hal baru. Awalnya terasa berat, tapi itu tanda otak sedang “sembuh”. Batasi konsumsi konten pendek yang tidak memberi nilai.
Dari sisi sikap, latih kesabaran dan kesadaran. Biasakan bertanya: “Apakah ini bermanfaat?” sebelum membuka aplikasi. Bangun mental intentional living, hidup dengan niat, bukan sekadar reaksi.
Dari sisi perilaku, buat batasan waktu layar, perbanyak gerak, rapikan rutinitas, dan isi hari dengan aktivitas nyata: olahraga, berkarya, bersosialisasi sehat. Tubuh yang aktif membantu pikiran tetap jernih.
Dari sisi spiritual, perbanyak dzikir, tadabbur Al-Qur’an, shalat dengan jeda tenang, dan momen hening tanpa gawai. Ini bukan sekadar ibadah, tapi juga detoks mental. Hati yang terhubung dengan Allah akan lebih kebal terhadap kekosongan makna.
Sahabat DeMuslim, perlu disadari, bahwa brainrot bukan sekadar soal “kebanyakan main HP”, bukan sekadar bagaimana hidup kita disita oleh asyiknya main gadget. Lebih dari itu, ini soal kehilangan kedalaman hidup. Islam mengajarkan kita untuk berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran. Maka menjaga otak dan jiwa tetap sehat adalah bagian dari menjaga amanah Allah. Di dunia yang bising, memilih sadar adalah bentuk ibadah. Yuk, jadi orang yang senantiasa dalam kondisi terjaga!
.png)


Posting Komentar untuk "Awas Brainrot, Jangan Biarkan Otak Kita Busuk!"
Posting Komentar