Widget HTML #1

judul gambar

Hikmah Isra Mi’raj: Perjalanan Agung, Iman yang Agung

Apa yang terbetik di benak Sobat DeMuslim saat memasuki tanggal 27 Rajab? Bagi kaum Muslimin, tanggal ini bukan sekadar penanda kalender hijriah, melainkan pintu ingatan menuju salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah kenabian: Isra Mi’raj. Tahun ini, 27 Rajab 1447 H bertepatan dengan Jumat, 16 Januari 2026. Di pagi yang sejuk, di bulan yang masih basah oleh hujan, mari sejenak kita berhenti dari hiruk-pikuk dunia dan mengarahkan hati pada perjalanan spiritual Rasulullah ﷺ yang luar biasa.

Isra Mi’raj adalah perjalanan suci Rasulullah ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu dilanjutkan naik menembus langit hingga Sidratul Muntaha. Qadarullah, perjalanan agung yang secara logika manusia terasa mustahil itu, ditempuh hanya dalam satu malam. Di sinilah kita diajak untuk kembali menyadari: keterbatasan akal manusia tak pernah bisa membatasi kekuasaan Allah SWT. Jika Allah berkehendak, maka “kun fayakun” – jadilah, maka terjadilah.

Hikmah pertama yang sangat jelas dari peristiwa ini adalah penegasan tentang kebesaran dan kemahakuasaan Allah SWT. Isra Mi’raj bukan sekadar cerita menakjubkan, tetapi tamparan lembut bagi kesombongan akal manusia. Di zaman modern, ketika teknologi dianggap mampu menjawab segalanya, Allah justru memperlihatkan bahwa ada wilayah-wilayah kekuasaan-Nya yang tak bisa dijangkau oleh sains maupun logika. Imanlah yang menjadi kunci.

Hikmah kedua, Isra Mi’raj menunjukkan keistimewaan Nabi Muhammad ﷺ dibandingkan nabi-nabi lainnya. Beliau dipanggil langsung menghadap Allah SWT dan menerima perintah shalat tanpa perantara. Ini bukan perkara kecil. Shalat adalah tiang agama, dan lima waktu shalat adalah fondasi tegaknya Islam dalam diri seorang Muslim. Seakan Allah ingin menegaskan bahwa hubungan hamba dengan Tuhannya harus dijaga secara langsung, intens, dan penuh kesadaran. Maka setiap kali kita berdiri untuk shalat, sesungguhnya kita sedang menapaki jejak spiritual Rasulullah ﷺ.

Hikmah ketiga, peristiwa ini mengangkat derajat Masjidil Aqsha sebagai tempat yang mulia. Masjidil Aqsha bukan sekadar bangunan tua di Palestina, tetapi saksi sejarah perjalanan Rasulullah ﷺ menuju Sidratul Muntaha. Ia adalah titik temu para nabi, tempat Rasulullah menjadi imam bagi para rasul. Maka luka yang dirasakan Masjidil Aqsha hari ini seharusnya juga menjadi luka bagi umat Islam di seluruh dunia. Penjajahan yang masih berlangsung di sana bukan sekadar isu politik, tetapi panggilan iman dan kemanusiaan.

Hikmah keempat, Isra Mi’raj terjadi pada masa Rasulullah ﷺ berada dalam duka yang sangat mendalam. Setelah melewati boikot di Lembah Syi’b yang menguras fisik dan ekonomi, menghadapi teror kaum musyrikin Quraisy, lalu kehilangan dua sosok penopang utama hidupnya—Khadijah dan Abu Thalib—Rasulullah benar-benar berada di titik kesedihan. Tahun itu dikenal sebagai ‘Amul Huzni, tahun kesedihan. Di tengah luka dan kelelahan itulah Allah menghadiahkan perjalanan agung ini. Betapa indahnya cara Allah menghibur hamba-Nya.

Hikmah kelima, Isra Mi’raj hingga kini menjadi ujian keimanan. Sejak dulu hingga sekarang, selalu ada yang mencibir, meremehkan, bahkan menertawakan kisah ini. Namun justru di situlah letak kemuliaan iman: percaya meski tak melihat, yakin meski tak menyentuh. Bagi orang beriman, Isra Mi’raj bukan dongeng, melainkan kebenaran yang menguatkan jiwa.

Sobat DeMuslim, di hari yang penuh berkah ini, mari kita mentadaburi kembali makna Isra Mi’raj. Bukan hanya sebagai cerita tahunan, tetapi sebagai cermin untuk memperbaiki shalat, menguatkan iman, menumbuhkan kepedulian terhadap Masjidil Aqsha, dan belajar bahwa di balik setiap kesedihan selalu ada hadiah dari Allah. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mampu menangkap ibrah dari perjalanan agung ini, lalu menjadikannya cahaya dalam langkah-langkah kehidupan. Aamiin. [YM].


Posting Komentar untuk "Hikmah Isra Mi’raj: Perjalanan Agung, Iman yang Agung"